Monday Feb 06

recent article

Move
Display 0 | 5 | 10 | 15 Stories

Artikel

Topics
Top Story

JFC undercover

JFC undercover

Minggu 8 Agustus kemarin, Jember Fashion Carnaval yang ke-9 telah digelar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, JFC kali ini juga dipadati pengunjung. Tapi kali ini kita nggak membahas "JFC-nya" melainkan keadaan...

Ketindisan Waktu Tidur

Ketindisan Waktu Tidur

Ketindisan Pernah suatu hari anda terbangun dari tidur dengan tubuh tak bisa bergerak sama sekali? Ditindih makhluk halus! Tenang... berikut adalah penjelasan ilmiahnya. Menurut medis, keadaan ketika...

"CERI" si kecil yang super

"ceri" si kecil yang super CERI Ceri adalah sejenis tumbuhan dan buahnya yang berasal dari genus prunus. Buah yang diproduksi sekitar 3 juta ton per tahun diseluruh dunia ini terbukti multi fungsi. Selain...

Musik dan Kepribadian

Music Setiap orang pasti memiliki kecenderungan berperilaku tertentu, khas, dan yang pasti berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Kepribadian seseorang bisa dilihat dari selera musik yang disukainya....

Fakta Menarik di Sekitar Kita

Ternyata banyak sekali fakta-fakta menarik di dunia ini yang sebenarnya simple tapi masih sedikit yang tahu. Berikut beberapa fakta menarik yang redaksi COKOCIP temukan: Seekor kecoak bisa hidup kira-kira...

Cerpen Nggak Jelas...

Sejarah Hari Ibu

Beethoven, Legenda dan Symphony No. 3 Eroica

Sejarah Hari Ibu

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Artikel

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umumpawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, pemberian bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Enak, kan, jadi seorang ibu? :ting:

disandur dari= wikipedia (dengan perubahan seperlunya)


blog comments powered by Disqus

Followers

ADVERTISEMENTS

Hosting Murah Domain Murah

Hosting USA Super Murah